21
May
10

Informasi Kesehatan Di Media Elektronik, Bermanfaat Atau Menjerumuskan ?

Pdpersi, Jakarta – Seorang dosen perguruan tinggi di Jakarta yang bergelar S2, sudah divonis dokter mengidap penyakit diabetes mellitus atau kencing manis yang harus minum obat jangka panjang. Awal cerita tragis terjadi, saat melihat acara televisi yang menayangkan kehebatan seorang berjas putih yang mengklaim dapat mengobati penyakit semua penyakit dengan berbagai ramuan obat-obatan. Dengan bangga penderita tesebut dengan menceritakan pengalaman kehebatan tabib itu, badan penderita sudah segar setelah minum ramuan tersebut. Akhirnya obat dokter ditinggalkannya, selang satu bulan kemudian sang dosen terserang stroke. Dokter mengatakan bahwa stroke terjadi karena penyakit diabetes tidak terkendali karena obat dihentikan, sehingga timbul komplikasi stroke. Akhirnya si dosen hanya bisa menyesal mengapa harus mempercayai informasi kesehatan yang menyesatkan tersebut. Pengalaman tragis itu menunjukkan bahwa, tidak semua informasi yang saat ini sangat berlimpah itu memberi manfaat tapi kadang justru menyesatkan.

Dengan adanya kemajuan tehnologi informasi ternyata membawa dampak yang luar biasa dalam masyarakat. Banyak manfaat yang bisa diperoleh, karena masyarakat dapat mengakses informasi seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya, baik dari media cetak ataupun elektronik. Dari media elektronik semua stasiun radio dan televisi setiap hari marak memberikan informasi kesehatan. Belum lagi kehebatan informasi alam maya melalui internet. Informasi kesehatan apapun baik yang bersifat ilmiah dan popular dapat diketahui. Manfaat yang luarbiasa ini ternyata tidak hanya menguntungkan tetapi sebaliknya bisa menyesatkan apabila informasi yang diterima tidak benar atau terjadi kesalahan dalam mencerna informasi tersebut.

Salah satu contoh tragis di atas menunjukkan bahwa informasi yang diharapkan dapat membantu masyarakat dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Bayangkan seorang dosen perguruan tinggi bergelar S2 saja dapat terkecoh oleh informasi kesehatan yang menyesatkan tersebut. Apalagi masyarakat luas lainnya yang secara umum pendidikannya relatif belum terlalu tinggi. Kelemahan informasi kesehatan tersebut harus lebih dicermati dan disikapi dengan jelas oleh berbagai pihak yang berkopeten dqn berwenang. Bila tidak, berapa banyak lagi masyarakat yang dapat terjerumus oleh informasi yang justru malah merugikannya.

Kelemahan dalam penyampaian informasi tersebut, sangat tergantung dari kualitas informasi yang disampaikan ataupun kemampuan penerima informasi untuk mencernanya. Dalam melakukan Komunikasi Informasi dan Edukasi tentang kesehatan terhadap masyarakat, tidak sederhana seperti yang dibayangkan. Pengetahuan medis yang sulit dan bahasa medis yang membingungkan tidak mudah ditranformasikan terhadap masyarakat awam sekalipun masyarakat berpendidikan tinggi. Diperlukan kemampuan berkomunikasi yang baik dalam penyampaian tersebut. Masalah yang utama yang tidak kalah penting adalah kualitas dari informasi kesehatan itu sendiri. Sebaiknya informasi kesehatan diberikan oleh pihak yang paling berkopeten yaitu dokter. Tetapi informasi kesehatan yang ada juga sangat luas. Kualitas informasi tersebut tergantung dari kompetensi dokter yang menyampaikannya. Tidak semua dokter sama kompetensinya dalam menyampaiakan masalah kesehatan tertentu. Misalnya, informasi kesehatan tentang masalah penggunaan pelayanan bayi tabung, yang paling berkompeten adalah dokter kandungan ahli fertilitas. Meskipun bila disampaikan oleh dokter umum atau dokter kandungan lainnya tidak masalah, tetapi tentunya kualitas informasinya lebih bagus yang disampaikan oleh dokter kandungan ahli fertilitas, karena pengalaman dan latar belakang pendidikannya berbeda.

Di dominasi informasi terapi alternatif
Saat ini terdapat kecenderungan yang terjadi dalam penyampaian informasi kesehatan di media elektronik didominasi informasi kesehatan alternatif. Hampir setiap berbagai stasium televisi dan radio berlomba-lomba menayangkan acara kesehatan alternatif. Hal ini terjadi karena ternyata kebutuhan informasi alternatif merupakan informasi kesehatan yang paling menarik bagi masyarakat Indonesia. Fenomena ini tampaknya mungkin hampir sama dengan kecenderungan masyarakat Indonesia lebih menyenangi film cerita dan hiburan yang berbau mistis. Memang harus diakui terdapat beberapa terapi alternatif yang berguna bagi masyarakat. Tetapi masyarakat juga tidak boleh menutup mata tentang banyaknya ketidak berhasilan, efek samping dan komplikasi yang ditimbulkannya hingga saat ini tidak pernah terungkap.

Tayangan informasi kesehatan alternatif bahkan cenderung ke arah irasional. Bayangkan sebuah tayangan yang pernah ditayangkan telivisi nasional dan sekarang masih dilanjutkan oleh sebuah stasiun televisi swasta. Dimana saat itu seorang berbaju putih yang mengaku dokter, memberikan informasi kesehatan secara interaktif pertelepon. Dengan gaya bak dewa seperti dicerita Kho Ping Hoo, ”sang dokter” tadi dengan gerakan ke dua tangan yang berputar-putar seakan dapat mendeteksi penyakit si pasien. Yang ganjil, adalah setiap keluhan dari pasien selalu dikatakan terjadi penyumbatan di pembuluh darah. Lucunya lagi, ujung-ujungnya si dokter menyampaikan harus segera datang ke tempat prakteknya, nanti insya allah akan bisa diobati. Bertahun-tahun acara tersebut masih mengudara, bedanya saat ini si baju putih tersebut tidak menyantumkan nama dokter lagi.

Dalam tayangan televisi lain, seorang ustadz atau yang bergelar “gus” dengan kearifan agamanya, ternyata menerima konsultasi kesehatan medis. Sang uztads menjawab pertanyaan pemirsa bak seorang dokter ahli. Berbagai pertanyaan tentang gejala, penyebab, pengobatan dan prognosa penyakit dijawab dengan tangkas oleh sang ustadz. Mungkin bila orang awam yang mendengarnya merupakan suatu informasi yang berharga. Tetapi, bila seorang dokter mendengar jalannya konsultasi tersebut pasti ingin menginterupsi karena banyaknya informasi yang menyimpang. Tampaknya hal tersebut juga banyak dijumpai dalam tayangan acara kesehatan alternatif lainnya.

Fenomena unik ini harus diakui sedang menggejala dalam masyakat. Adalah suatu kelaziman dan tidak pernah diungkapkan bila terapi medis berhasil menyembuhkan pasien. Tetapi, bila ada kegagalan dalam terapi medis maka berita tersebut akan lebih mudah tersebar. Sebaliknya, bila ada keberhasilan terapi alternatif akan merupakan buah bibir bagi masyarakat. Tetapi, bila tidak berhasil dalam terapi alternatif maka masyarakat pasti akan memendamnya dalam-dalam. Tampaknya kecenderungan hal inilah yang menunjukkan bahwa terapi alternatif masih menjadi primadona dalam masyarakat.

Terapi medis atau terapi alternatif
Di bidang ilmu kesehatan sering dibedakan antara terapi medis dan terapi alternatif. Terapi medis adalah penatalaksanaan atau pengobatan suatu penyakit atau kelainan yang berdasarkan kaidah ilmu pengetahuan di bidang kedokteran. Penanganan di dalam ilmu kedokteran harus berdasarkan berbagai latar belakang ilmuan kedokteran seperti imunopatobiofisiologis ataupun biomolekular. Dalam penerapannyapun harus berdasarkan penelitian medis berbasis pengalaman klinis. Secara ilmiah berbagai terapi yang diberikan juga harus berdasarkan pengalaman klinis dengan berbasis pada penelitian ilmiah yang terukur. Dalam kurun waktu terakhir ini pemberian pengobatan di bidang kedokteran sudah beralih ke arah Evidance Base medicine (EBM) atau pengalaman klinis berbasis bukti. Tujuan utama dari EBM adalah membantu proses pengambilan keputusan klinik, baik untuk kepentingan pencegahan, diagnosis, terapetik, maupun rehabilitatif yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan

Sedangkan terapi alternatif adalah berdasarkan pendekatan pengobatan tradisional turun temurun baik dari mulut kemulut berbagai pengalaman diperoleh dari warisan nenek moyang yang tidak berdasarkan kaidah ilmiah atau bertentangan dengan ilmu kedokteran. Meskipun diakui tidak semua terapi alternatif tidak bermanfaat. Saat ini ada juga terapi alternatif yang mulai disinergikan dengan terapi di bidang ilmu kedokteran seperti terapi akupuntur. Hal seperti inipun harus melalui proses penelitian secara ilmiah yang berlangsung lama, dan memang terbukti secara klinis.

Terapi atau diagnosis alternatif meskipun tidak berdasarkan kaidah ilmiah juga banyak dilakukan oleh profesional medis di bidang kedokteran seperti dokter, terapis dan lain sebagainya. Secara aspek legal dan secara etika kedokteran sebenarnya hal tersebut tidak dilazimkan karena akan menyimpang dari kompetensi dan profesionalitas seorang dokter.

Terdapat perbedaan mendasar lainnya untuk mengetahui keberhasilan terapi medis dan terapi alternatif. Di bidang medis alat ukur keberhasilan medis harus berdasarkan penelitian terukur dan sahih secara statistik. Misalnya dalam penggunaan obat asma, harus diketahui tingkat keberhasilan dari 100 pemakai sekitar 80 yang berhasil dengan memperhatikan dengan cermat berbagai faktor yang mempengaruhi pengobatan tersebut.

Sedangkan terapi alternatif, biasanya diukur berdasarkan pengakuan orang perorang dalam menentukan keberhasilannya. Sehingga akurasi dan validitas keberhasilannya tidak bisa diketahui secara pasti. Sering dilihat di televisi dalam acara terapi alternatif oleh seseorang bukan berlatar belakang nonmedis, bahwa pengakuan seorang sembuh karena terapi yang diberikan. Mungkin saja memang penderita tersebut berhasil dengan terapi alternatif tersebut, tetapi tidak diketahui apakah yang tidak berhasil juga lebih banyak lagi. Di bidang medis seorang dokter tidak boleh menyebutkan keberhasilan pengobatan berdasarkan kesaksian keberhasilan seorang pasien. Seorang dokter harus selalu merujuk berdasarkan penelitian sebuah jurnal kesehatan yang kredibel atau jurnal yang dapat diakses di pubmed secara online.

Memang tidak bisa dipungkiri, terdapat beberapa terapi alternatif yang terlihat kasiatnya dalam jangka pendek. Namun masyarakat harus mencermati, apakah membaiknya karena terapi yang diberikan atau karena faktor lainnya. Karena, setiap terapi alternatif selalu dikaikan dengan doa-doa, pemberian obat-obatan herbal atau pantangan beberapa makanan. Mungkin saja memang ada obat herbal yang bermanfaat, tetapi kita harus cermat adakah obat lain yang terkandung. beberapa temuan didapatkan obat herbal dari terapi alternatif tersebut terkandung obat kortikosteroid. Ternyata obat jenis tersebut dalam bidang kedokteran termasuk obat dewa, karena bisa memperbaiki reaksi inflamasi yang ditimbulkan oleh berbagai penyakit. Hasilnya manjur, sesaat akan merasa segar dan enak tetapi secara jangka panjang pemakaian obat tersebut mengganggu ginjal, hati, tulang dan menurunkan daya tahan tubuh. Secara umum pemberian obat ini hanya bersifat mengurangi gejala dan tidak menyembuhkan penyakit yang ada.

Penggunaan terapi alternatif secara klinis masih belum dilakukan penelitian secara menyeluruh tentang manfaat dan efek sampingnya. Sehingga seringkali klinisi tidak bisa mengungkapkan kemungkinan bahaya penggunaan terapi alternatif. Sampai saat inipun masih belum ada penelitian klinis yang dapat membuktikan efek samping dan bahaya berbagai terapi alternatif. Hal yang lain yang dikawatirkan adalah penanganan alat terapi seperti ini akan membuat “lost cost therapy” atau biaya pengobatan terbuang percuma. Apalagi untuk terapi penyakit kronis biasanya dibutuhkan waktu pengobatan jangka panjang. Pada umumnya penderita yang sering beralih pada terapi alternatif adaah penderita penyakit kronis seperti asma, alergi, penyakit kanker, diabetes, dan sebagainya.

Berbagai masalah informasi kesehatan yang ada tersebut dengan berbagai aspek yang dapat ditimbulkan, sebaiknya menjadikan perhatian segera berbagai pihak. Pemerintah dalam hal ini departemen kesehatan, Momisi Penyiaran Indonesia dan berbagai inbstitusi yangt terkait harus lebih memperhatikan kualitas informasi yang sekarang semakin meningkat pesat dengan berbagai aspek yang tidak disadari ternyata bisa sangat merugikan masyarakat. Pihak stasiun televisi dan radiopun harus lebih mawas diri. Sebaiknya lebih mengutamakan kualitas informasi daripada selera masyarakat. Penyelenggara acara telivisi dan radiopun mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat untuk memberikan informasi yang mencerdaskan bukan dengan informasi yang irasioanal dan menyesatkan. Informasi kesehatan sebaiknya lebih diutamakan dalam penyampaian pesan, bukan mengutamakan promosi bagi layanan jasa kesehatan bagi nara sumbernya. Sebaiknya informasi tersebut harus diberikan oleh pihak yang berkompeten sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya di bidang medis. Kalaupun dalam penyampaian informasi pengobatan alternatif dilakukan, dikemas dengan cara rasional dan tidak berkesan memperdayai masyarakat. Harus diakui masyarakat Indonesia semakin pintar tetapi ternyata yang berpikiran irasionalpun juga masih sangat banyak.

http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=992&tbl=artikel


1 Response to “Informasi Kesehatan Di Media Elektronik, Bermanfaat Atau Menjerumuskan ?”


  1. 28 May 2014 at 10:31

    obviously like your website however you have to check the spelling on quite a few
    of your posts. A number of them are rife with spelling problems and I in finding it very bothersome to inform the reality however I will certainly come again again.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Blog Saya

Salam

Selamat Datang

Calender

May 2010
M T W T F S S
« Nov   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Jam*Suhu*Cuaca

Statistik

Afiliasi

CO.CC:Free Domain

Join 4Shared Now!

Enter a long URL to make tiny:

Ayat Al-Qur’an

Jadwal Adzan

Asmaul Husna

Asmaul Husna


%d bloggers like this: