Archive for the '11_Cerita' Category

21
Jul
11

Sedikit Muhasabah

Lama ga ngeblog, padahal, kalo ngeblog juga cuma copy paste ajah. yah, gapapalah asal disebutin sumbernya dan bisa bermanfaat buat yg baca,hehe.

nih sekilas infonya dibaca sendiri aja ya, bagus koq 🙂

Ini sebuah kisah anonymous tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampat dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.
Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambil tersenyum menjawab,”Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”
Cerita di atas, bagaimanpun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’ karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.
Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.
Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan.
Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.
Namun demikian, Saudara-saudaraku, salah seorang guru saya selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada Allah yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita dengan membaca do’a, ”Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.”
Bukankah Rasulullah pernah berkata, “tiga hal diantara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu”.
Sekian sekilas info dari saya, bagus kan isinya 😀

Sumber: kiriman email dari teman.

Advertisements
10
Mar
11

Lapangkan dada, Luaskan hati

 

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah.

Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.
Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama,

lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air.

Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya.”, ujar pak tua.
“Pahit, pahit sekali.”, jawab pemuda itu sambil meludah ke samping.

Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya.

Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.

 

Sesampai di sana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah.”

 

Saat si pemuda mereguk air itu. Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,

“Bagaimana rasanya ?”
“Segar!”, sahut si pemuda.
“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?”, tanya Pak tua.
“Tidak.”, sahut pemuda itu.

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata,

“Anak muda, dengarkan baik-baik.

Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang.

Jumlah dan rasa pahitnya pun sama dan memang akan tetap sama.

Tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki.

Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.

Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup,

hanya ada satu yang kamu dapat lakukan, lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu,

luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan,

 

“Hatimu adalah wadah itu.

Perasaanmu adalah tempat itu.

Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.

Jadi jangan jadikan hatimu seperti gelas,

buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu,

dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”

Karena hidup adalah sebuah pilihan..

 

Mampukah kita jalani kehidupan dengan baik sampai ajal kita menjelang?

 

 

16
Jun
10

Mencari Bukti Keberadaan Allah SWT

Ada seorang pemuda yang sudah lama menjalani pendidikan di luar negeri namun tidak pernah belajar agama Islam, kini kembali ke tanah airnya. Sesampainya di rumah ia diminta oleh kedua orang tuanya untuk belajar agama Islam, namun ia memberi syarat agar dicarikan guru agama yang bisa menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya karena belum ada yang mampu menjawabnya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kyai dari pinggiran kota.

Pemuda : “Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”

Kyai : “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan pertanyaan anda.”

Pemuda : “Anda yakin? Sedangkan Profesor di Amerika dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”

Kyai : “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.”

Pemuda : “Saya ada 3 pertanyaan:

* 1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya !
* 2. Kalau memang benar ada takdir, tunjukkan takdir itu pada saya !
* 3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) “Hei ! Kenapa anda marah kepada saya?”

Kyai : “Saya tidak marah… Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.”

Pemuda : “Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.”

Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”

Pemuda : “Tentu saja saya merasakan sakit.”

Kyai : “Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”

Pemuda : “Ya!”

Kyai : “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!”

Pemuda : “Saya tidak bisa.”

Kyai : “Itulah jawaban pertanyaan pertama… kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.”

Kyai : “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”

Pemuda : “Tidak.”

Kyai : “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?”

Pemuda : “Tidak.”

Kyai : “Itulah yang dinamakan takdir.”

Kiyai : “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?”

Pemuda : “Kulit.”

Kyai : “Terbuat dari apa pipi anda?”

Pemuda : “Kulit.”

Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”

Pemuda : “Sakit.”

Kyai : “Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ditempatkan bersama syaitan di neraka…”

Pemuda itupun langsung tertunduk dan memberi penghormatan kepada kyai tersebut sambil memohon untuk di ajarkan Agama Islam lebih banyak lagi.

16
Jun
10

Cerita tentang Katak Kecil

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil,…… yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama  mengelilingi menara untuk menyaksikan  perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta…

*Perlombaan dimulai*

Secara jujur:

Tak satupun penonton benar2 percaya bahwa katak2 kecil akan bisa mencapai puncak menara.

Terdengar suara:

“Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka  TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.”

atau:

“Tidak ada kesempatan untuk berhasil…Menaranya terlalu tinggi…!!

Katak2 kecil mulai berjatuhan. Satu persatu….Kecuali mereka  yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi…dan semakin tinggi..

Penonton terus bersorak :

“Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!”

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah……Tapi ada  SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi…

Dia tak akan menyerah!
Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali  satu katak kecil yang telah berusaha keras  menjadi  satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!

SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?

Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Ternyata…

Katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

Kata bijak dari cerita ini adalah:

Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis…… karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu. Selalu pikirkan kata2 bertuah yang ada. Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi perilakumu!

Karena itu:

Tetaplah selalu….

POSITIVE!

Selalu berpikirlah:

I can do this!




Blog Saya

Salam

Selamat Datang

Calender

September 2017
M T W T F S S
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Jam*Suhu*Cuaca

Statistik

Afiliasi

CO.CC:Free Domain

Join 4Shared Now!

Enter a long URL to make tiny:

Ayat Al-Qur’an

Jadwal Adzan

Asmaul Husna

Asmaul Husna